Cerpen Pribadi
Peristiwa Teraneh
dalam Liburanku yang Terakhir
Prima Sari Anungputri
XI PSIA 6
Buuurrrr, Seketika semua berubah menjadi hening dan kosong. Terlihat lagi bayangan hitam besar itu di mataku. Bingung apa yang harus aku lakukan, semua seolah-olah menjeratku pada rantai yang transpara. Ingin sekali rasanya melarikan diri dari tempat ini. Tapi apa daya, diriku terperangkap di tempat yang hampa ini. Kegelisaan ku mulai bertambah saat ku lihat ikan raksasa yang seolah-olah bergerak secepat mungkin untuk memangsaku. Kupasrahkan tubuhku yang kaku ini. Ketika ikan itu hampir menghampiriku, ia berubah menjadi sinar pagi yang sangat menyilaukan mataku. Sulit rasanya untuk membukakan mataku dari sinar itu. Kucoba perlahan-lahan membuka mataku, dan yang aku lihat sekarang hanyalah terali jendela dan tanaman bonsai di luar jendela milik nenekku. Dan akhirnya aku simpulkan bahwa semua yang kualami itu hanyalah mimpi belaka.
dalam Liburanku yang Terakhir
Prima Sari Anungputri
XI PSIA 6
Buuurrrr, Seketika semua berubah menjadi hening dan kosong. Terlihat lagi bayangan hitam besar itu di mataku. Bingung apa yang harus aku lakukan, semua seolah-olah menjeratku pada rantai yang transpara. Ingin sekali rasanya melarikan diri dari tempat ini. Tapi apa daya, diriku terperangkap di tempat yang hampa ini. Kegelisaan ku mulai bertambah saat ku lihat ikan raksasa yang seolah-olah bergerak secepat mungkin untuk memangsaku. Kupasrahkan tubuhku yang kaku ini. Ketika ikan itu hampir menghampiriku, ia berubah menjadi sinar pagi yang sangat menyilaukan mataku. Sulit rasanya untuk membukakan mataku dari sinar itu. Kucoba perlahan-lahan membuka mataku, dan yang aku lihat sekarang hanyalah terali jendela dan tanaman bonsai di luar jendela milik nenekku. Dan akhirnya aku simpulkan bahwa semua yang kualami itu hanyalah mimpi belaka.
Kucoba mengumpulkan seluruh nyawaku yang sempat hilang saat ku tidur. Telah terdengar panggilan untuk sarapan pagi dari suara nyaring mamaku. Kuhapuskan semua ingatanku tentang mimpi itu dan kuberanjak ke ruang tengah untuk menemui keluargaku. Terlihat disana paman, bibik, kakek, mama, papa dan saudara-saudaraku sedang menyantap serabi dengan teh manis yang hangat. Dengan lahapnya mereka makan serabi itu sambil melihat berita di tv. Seketika nenekku keluar dari dapur dan berkata “ Eh Lisa mah udah bangun, sok tuh santap sarabinya. Masih hangat”. “ Oh iya nek”, jawab ku. Ku sambar langsung serabi yang di beri adonan telur bebek yang rasanya sangat mengenyangkan. Ku habiskan serabi yang masih tersisa di tanganku dengan lahapnya dan juga the manis itu. Setelah itu kucuci tanganku yang berminyak sekalian aku ke teras rumah untuk menghirup udara segar asli pegunungan. Segarnya rasanya liburan ke rumah nenek yang asri dengan Gunung Tampomas. Kulihat pohon-pohon tua yang disambungkan satu sama lain dengan papan-papan yang cukup kuat dan menjadi tempat bermain yang sengaja dibuat apabila aku pulang ke Sumedang.
Setelah puas melihat pemandangan teras rumah dan menghirup udara segar di pagi hari, aku kembali ke dalam rumah. “Darimana mbak? Pagi-pagi sudah main kabur saja”. Kata mamaku melihat aku masuk ke dalam rumah. “Enggak cuma duduk di teras aja. Cari udara segar”, jawabku. “ O, kirain kemana. Mandi gih sana”, tambah mamaku. Kuanggukan kepalaku dan kuambil handukku di kamar dan langsung ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, aku pun keluar kamar mandi. Seketika melihat suasana yang cukup berantakan di dapur. Ada bibikku disana. “Bik, mau diapain dapur ini bik?” tanyaku pada bibikku yang sedang mencari sesuatu pada tumpukan panci. “Eh neng Lisa, ini mo bikin kue. Ikut atuh neng”, jawabnya. “O, bikin kue, kirain kenapa dapur ini. Kue apa bik yang mau dibikin?”, tanyaku lagi. “Banyak atuh neng, kue semprit, kaneker, bolu, nastar, keju, ehm banyak lagi deh neng”, jawab bibikku lagi. “O, aku mau ikut, tapi pake baju dulu ya bik”, kataku. “Sok atuh ganti baju, n’tar masuk angin”, kata bibikku. Tak ku jawab lagi omongan bibikku dan langsung saja aku ke kamar untuk memakai baju.
Tak lama waktu yang ku gunakan untuk memakai baju. Langsung saja diriku pergi ke dapur untuk ikut serta dalam pembuatan kue. Yap, benar sekali seperti yang ku bayangkan. Semua bahan dan alat telah dipersiapkan. Dan penambahan yang cukup pesat orang di dalam ruangan ini. “Eh Lisa mau ikut juga ya bikin kue?”, tanya mbak Pira. “Iya mbak, bosen rasanya gak ada yang dikerjakan”, jawabku. “Lho gak ikut mas Huda sama kakek ke sawah ya?”, kata mbak Kika. “Hah? Ke sawah, ngapai mbak? Kok Lisa gak diajak?”, kataku dengan heran. “O, mana tau mbak. Kamu sih kemana aja tadi?”, jawab mbakku. Kesal sekali rasanya tidak diajak keliling desa ini. Pasti banyak pemandangan yang indah bila ku ikut kakek ke sawah. Bisa sekalian cuci mata. “Lisa tolong hidupkan mixernya dong”, kata mbak Pira. Tanpa ku jawab, langsung ku hidupkan mixer tua itu.
Tak terasa telah beberapa jam kulewati waktuku di dapur. Kakiku sudah mulai semutan dan baju ku sudah mulai belepotan tepung. Kuputuskan untuk keluar dari dapur dan mencuci tanganku. Setelah itu aku terpikir sejenak dan kurasakan sesuatu yang janggal. Rasanya ada sesuatu yang hilang di rumah ini. Seketika aku kembali ke dapur dan bertanya pada mamaku. “Ma, kakek dan mas Huda sudah pulang?” tanyaku dengan antusias. “Sudah dari tadi. Kenapa?”, jawab mamaku dan menanya balik. “Tidak kok”, jawabku. Rasanya masih tidak tenang hati ku dengan jawaban mama ku itu. Langsung ku buktikan saja untuk mencari kakek dan mas Huda. Segera aku berjalan ke ruang tengah, disana ku lihat kakek sedang berdebat berita dengan papaku. Masih saja ada yang mengganjal di hatiku walau kakek ada. Masih belum ketemu mas Huda. Kucari segara mas Huda di seluruh penjuru rumah dengan teliti dan hasilnya nol. Aku tak menemukannya.
Akhirnya ku laporkan pencarianku kepada semua orang di dapur. “Ma, mas Huda belum pulang ya?”, tanyaku. “Ah, masak? Sudah kok, kakek tadi kan sudah pulang”, jawab mamku dengan tenang. “I,ya ma, memang kakek sudah pulang, tapi mas Huda belum pulang”, bantah ku. “Ah, gak mungkin, mas Huda kan perginya sama kakek”, jawab mamaku tak percaya. “Aduh gak percaya banget sih, tanya aja sama kakek”, kata ku dengan percaya diri. Mamaku pun langsung menemui kakek di ruang tengah dan berkata “ Bapak, Huda mah uih ka bumi nak?”, tanya mamaku pada kakek. “ teu acan, yoga mah masih di saung. Kata nak, mau maen disitu. Ada mang Dayat, jadi mah bapak tinggal aja” jawab kakek dengan santai. “O, begitu. Sama mang Dayat kan?”, tanya mamaku memastikan. “Ehe”, kata kakek. “Tuh kan mas Huda gak kenapa-kenapa. Kan ada mang Dayat juga di saung”, kata mamaku. Hati ku masih saja gak tenang dengan pernyataan itu. “ Ma Lisa cari mas Huda aja ya sama Iis”, kataku. Tanpa persetujuan mamaku pun aku langsung ke rumah Iis yang cukup dekat dengan rumah nenekku dan mengajaknya untuk ke saung kakekku. Untungnya ia tau dimana saung kakekku.
Setelah Iis mendapat izin untuk pergi ke saung, kami secepat mungkin ke saung itu. Perjalanan yang sangat menyenangkan di tengah hari. Kami menelusuri pinggiran kolam-kolam yang berkisar hanya 20 cm dan kami harus super hati-hati. Kami juga melewati kolam kakekku dan sawah nenekku. Setelah beberapa menit, akhirnya kami menemukan sawah kakekku. Tak bisa ku bayangkan sebelumnya kalau sawah kakekku sangat luas. Aku sangat terkejut melihat sawah kakekku. Terlihat oleh ku saungnya dan ada mang dayat sedang mengatur selang air di sawah itu. Langsung saja kami hampiri mang dayat dan bertanya. “ Mang mana mas Huda?”, tanyaku dengan gelisah. “Di saung neng”, kata mang Dayat. Langsung saja kami ke saung itu dan aku terkejut melihat mas Huda tidak ada di sana. “Mang kok mas Huda gak ada?”, tanya ku. “Ah masak neng. Tadi ada di saung”, jawab mang dayat heran. “ Ah mamang ni gimana sih?”, kataku dengan kesal. Langsung saja aku dan Iis meninggalkan sawah kakekku dan mulai mencari mas Huda ke segala penjuru desa.
“Mas Huda, mas Huda, mas Huda…..” teriak ku dengan lantang sepanjang perjalanan menuju ke rumah nenekku. Dibantu oleh sepupuku Iis, kami mencari mas Huda. Aku bingung harus mencari mas Huda. Akhirnya sampai lagi kami di sekitar kolam kakekku. Aku tak tau kenapa feeling ku sangat kuat di daerah sini. Ku teriakkan suaraku ku sekuat mungkin dengan jalan mundur dan seketika Iis berteriak “Lisaaaaaaaaaaa”. Dan suara terakhir yang ku dengar ialah hembusan keras benda ke air. Dan semua berubah menjadi hening dan kosong. Terlihat oleh ku bayangan hitam itu. Yang terasa saat ini seolah-olah pernah ku alami. Ku coba mengingat-ingat kejadian ini, dan ya aku tau aku pernah mengalami hal ini di mimpiku tadi pagi. Dan dimana ikan raksasa itu. Ku tolehkan kepalaku dan kutemukan ikan raksasa itu.ku coba menelitinya saat ikan itu melintasi kepala ku.dan ketika ikan itu hampir mendekatiku, aku terangkat dari tempat itu oleh bayangan yang hitam itu. Seketika aku tersadar akan apa yang aku alami tadi. Aku masih tak percaya pa yang kurasa tadi. “Lisa gak apa-apa?”, tanya seseorang yang tak aku kenal. Kepala ku masih pusing untuk mengingatnya. Akhirnya aku di bawa oleh Iis dan laki-laki itu pulang ke rumah.
Ketika di rumah, aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari air kolam ikan kakekku. Aku masih memikirkan apa yang kualami tadi telah ku rasakan di mimpiku. Sesungguh aneh memang, tapi semua ini nyata. Layaknya aku memiliki indra ke enam. Hu dasar aneh. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, aku langsung ke kamar untuk mengganti baju. Setelah itu aku keluar kamar, aku mendapatkan banyak tawa dari keluargaku. Aku kesal sekali rasanya, melihat kakakku juga ikut menertawakkanku. Setelah mendengar cerita mamaku, kalau sebenarnya mas Huda telah pulang saat ku mencarinya, rasanya menyesal sekali beranggapan kakakku ku itu tersesat. Tapi semua ini mendapatkkan ku hikmah kalau liburan kali ini sangat membingungkan.
Kucoba menhirup udara segar itu lagi pada sore hari. Kali ini ialah kali terakhirnya aku menghirup udara segar di Sumedang. Aku pasti sangat merindukan tempat ini. Terbesit di benakku untuk menaiki rumah pohon itu. Dan aku terkejut ketika melihat sesosok laki-laki ada di sana. Ku coba mengenalnya dan ya aku tau dia. Dia ialah orang yang menolongku tadi siang. “Eh Lisa mau naik juga”, katanya. Ternyata dia mengenalku. “Oh ia, makasih ya udah nolongin aku tadi siang”, kataku. “Oh sama-sama. Lisa pasti lupa siapa saya?”, katanya. “Kalau boleh jujur sih iya”, kataku jujur. “ Perkenalkan, saya mah Aji”, katanya. “O, Aji. Wah Aji udah gede ya. Kirain siapa. Pantes aja perasaan pernah liat”, kata ku dengan senang. “Iya Lisa juga udah gede, makin cantik aja”, katanya dengan senyum yang manis. “Ah Aji bisa aja”, jawabku. Akhirnya kami tertawa bersama seriang mungkin sambil melihat matahari terbenam dari atas rumah pohon. Kuberharap dapat kembali ke sini lagi. Banyak kenangan terpendam di daerah sini.








0 komentar:
Posting Komentar